Minggu, 06 Januari 2013

Museum Tan Malaka dan Rumah Bacanya

Oleh Gilng Helindro

Rumah Gadang itu memiliki gonjong lima. Sebagian lantai dan dindingnya sudah rapuh. Ketika kaki satu persatu menginjak anak tangga terdengar suara berderik dari sela-sela papan itu. Rumah ini sama dengan rumah gadang lainnya. Ornament khas minang kabau sangat kental menghiasi sekelilingnya. Hanya saja dinding sebelah kiri tidak terbuat dari papan yang mendominasi, tapi dari anyaman banbu yang juga terlihat lusuh. Rumah ini di bangun tahun 1936.  Ukurannya kira-kira 18 x 11 meter. Dulunya rumah ini di huni oleh Tan Malaka, salah satu pahlawan nasional yang kontroversial dalam sejarah bangsa Indonesia. Sekarang rumah ini dijadikan rumah baca dan museum Tan Malaka, di Desa Kampuang Patai, Kenagarian Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh. Kabupaten Lima Puluh Kota. Propinsi Sumatera Barat.
Bagian dalam banyak terpajang foto Tan Malaka bersama Presiden Soekarno. Koleksi buku-buku sejarah tentang perjuangan tersusun rapi di rak. Ada juga ranji-ranji keturunan Tan Malaka. Di ruang utama sedikitnya 34 koleksi foto Tan Malaka berjejer menghiasi dinding dengan berbagai momentum. Salah satunya foto ketika ia membuka buku berjudul Gerilya, Politik dan Ekonomi di Yogyakarta. Di lemari kaca sudut ruangan juga dipenuhi buku hasil pemberian para peneliti dan sejarawan tentang dirinya. Kurang lebih ada 28 judul. Beberapa diantaranya yaitu Gerakan Kiri Minangkabau dan Dari Penjara Ke Penjara.
Di ruangan itu juga terlihat ranji datuk Tan Malaka. Ranji adalah catatan silsilah keturunan keluarga bagi suku minang. Ranji itu terletak di bawah koleksi foto-foto Tan Malaka dari generasi pertama hingga sekarang. Diawali dari Ibrahim Dt Tan Malaka 1913-1942, Samat Dt Tan Malaka 1942-1948, Abdul Muis Dt Tan Malaka 1948-2000, Hengky Novara Arsil SE MM 2000 - Sekarang.
Kini yang menunggu rumah itu adalah Indra Ibnu Ikatama, cicitnya Tan Malaka. Ia juga mewakili Hengky yang sekarang sudah berdomisili di Jakarta. “Mengenai rumah, diresmikan sejak tahun 2008 sebagai museum dan rumah baca. Sayangnya tak ada perhatian serius dari pemerintah setempat” katanya.
Renovasi kecil dilakukan keluarga ketika sejarawan dari belanda berkunjung. Selama peresmian rumah sebagai museum dan rumah baca Tan Malaka. Belum pernah sekalipun direnovasi. “Kami pihak keluarga tidak terlalu berharap dana renovasi. Tapi sepatutnya Pemda dan Dinas Periwisata memperhatikan,” tambahnya.
***
Tan Malaka dilahirkan di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, dengan nama Ibrahim. Belum ada data pasti ihwal tanggal kelahiran Tan Malaka. Banyak yang menyebut ia dilahirkan pada 19 Februari 1896, namun ada pula yang merunut bahwa angka lahir Ibrahim Tan Malaka tanggal 2 Juni 1897.
Ayahnya bernama Rasad, berasal dari marga Chaniago. Sedangkan ibunya bernama Sinah, berpuak Simabur. Konon, leluhur ibunda Ibrahim berasal dari Kamang, Bukittinggi. Sedangkan moyang sang ayah datang dari Bonjol, utara Payakumbuh, yang melarikan diri ketika Perang Paderi meletus.
Ayah Ibrahim adalah seorang pegawai rendahan, bekerja sebagai manteri suntik dan petugas yang mengatur distribusi garam di kampungnya. Gaji sang ayah yang hanya belasan gulden, masih sulit untuk membiayai keluarga. Karena keterbatasan itulah, Rasad hanya mampu menyekolahkan Ibrahim ke sekolah dasar Kelas Dua, sekolah milik pemerintah colonial Belanda untuk anak rakyat kebanyakan.
Berkah bagi Ibrahim, meski dikenal agak nakal, otaknya cukup cemerlang. Karena itu lah guru-guru di sekolahnya merekomendasikan agar ia melanjutkan pendidikan ke sekolah guru negeri untuk guru-guru Bumiputera di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi). Sekolah ini satu-satunya lembaga lanjutan bagi lulusan sekolah Kelas Dua setelah menempuh pendidikan selama lima tahun.
Kesempatan ini justru menjadi buah pikiran tersendiri bagi Rasjad, mengingat kondisi ekonomi yang pas-pasan. Sekolah di Fort de Kock itu terkenal dengan sebutan “Sekolah Raja.” Artinya hanya anak-anak dari kalangan bangsawan  mengenyam pendidikan. Untungnya Ibrahim salah satu murid kesayangan di sekolah sebelumnya, dan mereka terus berjuang agar Ibrahim dapat diterima di “Sekolah Raja.”
Segala cara dimaksimalkan agar tujuan mulia itu bisa terlaksana. Asal-usul keningratan ibunda Ibrahim ternyata dianggap cukup untuk alasan mendaftar. Moyang sang ibu adalah salah satu pendiri Pandam Gadang dan juga membawahi beberapa datuk. Peluang Ibrahim terbuka bukan karena itu, tapi karena kecerdasannya yang menjadi nilai lebih. Meski Ibrahim terkadang berlaku bandel, ia sangat gemar menghabiskan waktunya untuk bermain sepakbola.
Ibrahim berhasil diterima menjadi siswa di Sekolah Raja. Inilah perantauan pertama Tan Malaka keluar dari kampung halamannya. Di lingkungan yang baru, Ibrahim berkenalan dengan budaya bangsa yang menjajah negerinya. Ia mulai mendalami bahasa Belanda. Ibrahim juga menyibukkan diri dengan bergabung menjadi anggota orkes sekolah yang dipimpin oleh Gerardus Hendrikus Horensma, seorang keturunan Belanda yang menjadi guru di Sekolah Raja.
Setahun sebelum ia menyelesaikan pendidikan. Ibrahim dipanggil pulang ke tanah kelahirannya sekitar tahun 1913, umurnya pun belum genap 17 tahun. Keluarga punya rencana lain. Diadakan rapat adat untuk memilih Ibrahmi sebagai datuk. Ia merupakan anak lelaki tertua keluarga Simabur, itu berarti ia harus bersiap-siap memangku gelar datuk sebelum ayahnya wafat. Sebagai datuk, nantinya Ibrahim memimpin tiga marga keluarga yaitu Simabur, Piliang dan Chaniago.
Kaum tetua adat dibuat gusar karena Ibrahim dengan tegas menolak penobatan itu. Sampai akhirnya ia diberi pilihan sulit, menolak gelar atau menikah. Takut menikah diusia muda, Ibrahim angkat tangan dan terpaksa menerima gelar tertinggi dalam adat Minang itu. Maka nama lengkapnya menjadi Ibrahim Datuk Tan Malaka. Pesta penobatannya digelar besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam.
Namun, pesta suka cita itu ternyata berujung perpisahan. Ibrahim alias Tan Malaka harus segera meninggalkan tanah kelahirannya untuk hijrah ke negeri Belanda, meneruskan pendidikan sekolah guru di Harleem, pasca kelulusannya dari Sekolah Raja.
Ia dapat beasiswa atas jasa baik G Horensma. Sebelumnya, upaya Ibrahim untuk bisa pergi ke Belanda terbentur masalah biaya. Padahal orang sekampung sudah patungan kumpulkan uang, tetap saja tak cukup.
Ternyata ini lah kisah awal berkelana Tan Malaka. Dari Nagari Pandam Gadang, Tan Malaka beringsut ke Bukittinggi untuk kemudian siap mengepakkan sayap menjelajahi semesta. Tujuan Tan pertama adalah Harleem University.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Tan Malaka kepada bangsa ini, maka tanggal 21 Februari 2008 rumah tua Tan Malaka diresmikan menjadi museum Tan Malaka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Rencananya, pihak keluarga dan panitia akan mendirikan monumen Tan Malaka di Payakumbuh serta Pusat Studi Pelatihan dan Pendidikan yang diberi nama “Tan Malaka Institutes” di Pandam Gadang tempat desa kelahirannya.

Tidak ada komentar: