Minggu, 29 April 2012

Metro Lomba Batik Khas


Metro - Metro harus diakui dibidang kesenian sudah sangat jauh ketinggalan, khususnya kesenian kreatif dan professional. Walau kota itu pernah jaya di tahun 1985-an silam. Kalaupun ada kegiatan seni, sastra dan budaya, sifatnya hanya formalitas oleh organisasi tertentu yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Metro.
Seperti belum lama ini, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Metro yang diketuai oleh Ny Netty Lukman Hakim mengadakan lomba design “batik khas” Metro.
Hasil upaya mempopulerkan batik oleh Dekranasda Metro itu telah menjaring 25 finalis lomba design—yang akhirnya dewan juri menetapkan 1 (satu) peserta sebagai pemenang.
Dian Arianto—seorang mahasiswa di Metro yang berdomisili di Tejoagung, Metro Timur ditetapkan melalui Surat Penetapan dan dibuatkan berita acaranya oleh Dekranasda Metro No 21/Dekranasda.KM/IV/2012 tanggal 24 April 2012 hari Selasa (24/4) lalu.
Keputusan penetapan pemenang lomba design khas batik Metro itu dilakukan oleh dewan juri di Operation Room (OR) Pemkot Metro. Dewanjuri yang terdiri dari Rohmatullah (pengusaha batik); Fritz Akhmad Nuzir (pengusaha) dan  Drs Joko Irianto (seniman Lampung).
Dalam kesempatan itu Joko Irianto berucap bahwa, hasil karya para peserta lomba kali ini  terbilang bagus, sehingga agak menyulitkan penilaian bagi dewan juri.
“Nilai masing-masing desain tidak berselisih jauh. Hal itu yang menyebabkan hadiah hanya untuk juara 1—3 saja,” ujar Joko seraya menambahkan, mereka juga memilih juara harapan 1—3.
Para juri lebih menitik beratkan penilaian kepada design khas batik, unik dan menarik, menurut Fritz dari kategori itulah mereka menetapkan pemenang lomba.
Hasil lengkap lomba dengan pemenangnya antara juara I, II dan II diraih  Dian Arianto (nilai 1574), Diana Yusuf—mahasiswa Dharma Wacana Metro warga Margorejo Metro Selatan (1531),  D Irianto Jatisusetyo—warga Yosorejo Metro Timur (1518).
Sementara untuk juara harapan dimenangkan masing-masing juara harapan I—III diraih oleh I Putu Febri Aditia, R Cahyo Lelono dan Atin Priyanto. (RD-2)

Plt Kadiskes Arogansi Dianggap Salah Paham

*Pelayanan Publik Puskesmas Bantul Buruk
Metro -Sikap arogansi salah seorang perawat di Puskesmas Bantul, Metro Selatan tentang pelayanan terhadap warga masyarakat yang membutuhkan rujukan beberapa hari lalu, dianggap Plt Kadiskes Kota Metro sebagai hal biasa dan hanya salah paham.
Hal itu dikatakan Plt Kadiskes Kota Metro, dr Erla Andriati kepada wartawan, Rabu (26/4) kemarin di ruang kerjanya. Erla terkesan mnelindungi pelayanan yang buruk di Puskesmas Bantul, Metro Selatan.
“Permasalahan itu sudah selesai dengan pihak pasien, bahkan walikota sendiri sudah mendapat laporan jadi tidak perlu dipermasalahkan,” tegas dr Erla.
Erla menambahkan, agar permasalahan seperti itu tidak terulang lagi di masa mendatang. Untuk menindaklanjuti pemberitaan media massa, Erla mengakui pihaknya sudah mendatangi Puskesmas Bantul, sekaligus untuk mengetahui duduk persoalannya.
Menurut Erla, apa yang sudah terjadi hanyalah bentuk kesalah pahaman saja.
“Permasalahan itu sudah selesai dengan keluarga pasien, dan pegawai itu sudah memberi laporan sampai pada pak walikota, “ jelas Erla.
Plt Kadiskes Metro itu pun berjanji, akan terus memberi pembinaan, agar kejadian itu tidak terulang lagi, dan berupaya peningkatan dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Namun, keterangan yang diberikan Erla terkesan tidak tegas menjawab persoalan yang sudah terjadi.
“Masalahnya sudah diketahui Walikota,” ungkap Erla.
Sementara di tempat terpisah melalui telepon genggam, Kepala Puskesmas Bantul, Ayik menegaskan kalau persoalannya sudah selesai dengan pihak yang dirugikan atas pelayanan Puskesmas Bantul.
Bahkan Ayik mengatakan, dokter Puskes bernama Ayu sudah ditelepon ajudan walikota, “Jadi masalah itu sudah diketahui walikota dan tak ada masalah lagi,” ulangnya lagi.
Kemudian Ayik mengatakan, tentang ajudan Walikota yang menelepon dr Ayu itu ia tidak tahu, karena yang ditelepon itu dr Ayu.
“Dan ia juga sudah menyuruh perawat yang punya masalah, Maindarti untuk menemui pihak pasien,” ungkap Ayik.
Namun, ketika dikonfirmasikan kepada pihak keluarga yang ditolak mendapatkan surat rujukan check up kesehatan, mengatakan dengan tegas, pihak Puskesmas belum pernah menemui keluarganya.
“Jadi, jangankan persoalannya selesai, datangpun belum,” kata orangtua korban penolakan surat rujukan Puskesmas Bantul itu.
Bahkan, pihak Pimpinan Puskesmas Bantul, Ayik ketika dikonfirmasikan via telepon genggam, kata-katanya tidak jelas ujung pangkalnya. Ia hanya membawa nama-nama pejabat Metro, dengan maksud wartawan takut. (naim emel prahana/RD-2)

Puskesmas Bantul Tolak Buat Rujukan


Metro Selatan -Sayang sekali, ketika pemerintah kota (Pemkot) Metro tengah giat-giatnya membangun tingkat pelayanan publik yang maksimal, pasca terpuruknya daerah kota itu dibidang pelayanan publik beberapa waktu lalu. Ternyata masih banyak PNSnya yang tidak mendukung.
Salah satunya adalah PNS di Puskesmas Metro Selatan (Bantul), yang tidak mau melayani permintaan surat rujukan ke rumah sakit untuk check up kesehatan.
Hal itu dialami oleh seorang anak PNS di Sat Pol PP Metro, Senin (243/4) yang akan mengurus persyaratan pencalonannya untuk mendaftar anggota Polri. Namun, saat minta surat rujukan di Puskesmas Metro Selatan, ia ditolak mentah-mentah oleh seorang asisten dokter Puskesmas setempat.
Melalui telepon genggam, orangtua korban yang tidak dilayani sebagaimana mestinya kepada LE mengatakan, ia merasa tersinggung dengan penolakan pegawai Puskesmas bernama Maindarti itu.
Coba bayangkan, anak saya mau check up kesehatan di RSUD A Yani, sebelumnya mau minta surat rujukan di Puskesmas Metro Selatan. Tapi, entah karena apa, ditolak oleh Maindarti.
“Yang minta rujukan itu hanya orang sakit saja,” kata Maindarti sebagaimana diucapkan oleh anak PNS di Sat Pol PP yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Ketika ditanya tentang, kenapa tidak boleh. Pegawai Puskesmas Metro Selatan itu malah balik bertanya, “Bapak kamu siapa dan kerja di mana?”
Si anak Sat Pol PP itu menjawab, kalau ayahnya sebagai PNS di Pol PP Metro, mendengar jawaban itu, bukannya dibuat rujukan, melainkan ditolak dengan tindakan kasar, berikut ucapan yang menyakitkan.
“Saya banyak urusan lain mengurus pasien,” kata Maindarti kepada si anak itu. Tentu saja prilaku pegawai Puskesmas Bantul itu membuat orangtuanya tersinggung.
Di konfitrmasi, Selasa (24/4) kemarin Maindarti kepada wartawan tidak mau memberi komentar, hanya ia bilang yang berhak memberikan keterangannya adalah pimpinan Puskesmas.
Saat dikonfirmasikan kepada pimpinan Puskesmas Bantul, Aik—kemarin ia sedang Rakor di Pemkot Metro, katanya usai Rakor ia masih ada tugas di Metro dan setelah itu baru bisa ditemui.
Ternyata sampai sore kemarin ditunggu, dan dihubungi via telepon, Aik tidak biosa dihubungi lagi. Dan apa yang terjadi di Puskesmas Metro Selatan (Bantul) itu, menjadi PR berat buat Walikota Metro dan jajarannya. (naim emel prahana/RD-2)

PNS BBIH Diduga Pake Ijazah Palsu


Pekalongan -Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di Balai Benih Induk Holtikultura (BBIH) Pekalongan, Lampung Timut (Lamtim), ditengarai saat mendaftar jadi CPNS menggunakan ijazah palsu.
PNS BBIH yang ditengarai pake (menggunakan, red) ijazah palsu itu adalah warga Tejoagung, Metro Timur, Kota Metro dan sampai saat ini sudah lama menjadi PNS di BBIH Pekalongan.
Beberapa sumber mengungkapkan, jika ijazah yang digunakan Pariman (51) tersebut, sebenarnya adalah ijazah milik Sariwan.
Sampai sekarang Pariman sudah mengabdi di BBIH Pekalongan sejak tahun 1980-an sebagai PNS di BBIH tersebut, dan saat ini Pariman sulit ditemui.
Ijazah yang digunakan Pariman itu adalah ijazah setaraf SD milik Sariwan, belum diketahui proses kepemilikan ijazah Sariwan itu, apakah memang dijual pemiliknya atau dipinhjam pakai kan.
“Waktu itu Pariman ditawari untuk kerja di BBI Pekalongan, tapi karena tak punya ijazah , iapun cari pinjaman ijazah, kebetulan adiknya bernama Sariwan punya ijazah, maka dimanfaatkanlah oleh Pariman,” kata sumber LE tadi yang enggan dituliskan namanya.
Dikatakan sumber tadi, setelah ia menjadi diangat menjadi PNS, Pariman melanjutkan sekolah dan ujian paket B.
“Walau dia sebagai nama Sariwan, tapi semua tahu kalau ia bernama Pariman, tapi herannya sampai sekarang tetap didiamkan saja,” aku sumber atdi. (naim emel prahana/RD-2)

Puting Beliung Hajar 9 Rumah


Karangrejo, Metro
Metro Utara -Sebanyak 9 rumah warga di RW 6 Kelurahan Karangrejo BD 23 Kecamatan Metro Utara, Kota Metro rusak akibat diterjang angin puting beliung yang terjadi, Selasa (24/4) lalu sekitar pukul 18.30—19.30 WIB.
Akibat terjangan puting beliung itu, sekitar 2 hektar lahan tanaman palawija hancur, pagar tembok sebuah pabrik beras sepanjang 50 meter roboh rata dengan tanah dan diperkirakan kerugian mencapai Rp 64 juta rupiah.
Lurah Karangrejo BD 23, Yoseph Nenotaek STTP kepada LE, Rabu (25/4) kemarin sore mengatakan, kondisi rumah yang diterjang puting beliung tersebut mengalami kerusakan rata-rata di bagian atapnya.
“Angin kencang disertai hujan lebat telah menerbangkan atap-atap rumah warga saya,:” kata Yoseph.
Bahkan, kata dia dua buah tiang listrik permanen patah menjadi dua bagian diterjang puting beliung.
Di sisi lain, puting beliung di Kelurahan Karangrejo menghantam 3 pohon besar hingga tumbang.
“Saat ini warga yang kena musibah puting beliung butuh bantuan dan uluran tangan pemerintah dan pihak lain yang peduli atas bencana di wilayahnya,” harap Yoseph.
Diungkapkan Lurah Karangrejo BD 23, warga korban angin puting beliung yang rumahnya rusak itu adalah Sugeng, Sugianto, Nur Wahyudi, Mulyani, Katino, Sutadianto, Suprianto, Murni dan Sutrino.
“Rata-rata mereka adalah petani di kelurahan Karangrejo,” tutur lurah Yoseph.
Sementara itu, Rabu (25/4) sekitar pukul 16.25 WIB angin kencang kembali melanda beberapa wilayah di Kota Metro dari arah Batanghari menuju ke Metro Utara, melintasi kelurahan Yosodadi, Yosorejo dan Yosomulyo.
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum diketahui, apakah angin puting beliung disertai angin kencang sore kemarin menimbulkan kerusakan atau tidak. (naim emel prahana/RD-2)

Sasana Angkat Besi Metro Diresmikan














BARU—Kendati secara resmi Pengurus Cabang Angkat Besi Kota Metro belum ada, karena terganjal birokrasi padepokan Imron Rosadi di Pringsewu. Namun, baik pelati, pengurus dan para lifter angkat besi dan berat Kota Metro terus berjuang, hasilnya sungguh mengagumkan. Sekarang mereka sudah memiliki sasan latihan sendiri yang dibangun dengan anggaran Rp 100 juta. FOTO NAIM EP/LE

Metro Timur-Luar biasa! Itulah kesan ketika mengunjungi Sasana Angkat Besi Metro yang dikomandani Ir H D Shantory—yang kebetulan saat ini masih anggota DPRD Kota Metro periode ke II.
Hal itu terlihat ketika Walikota Metro meresmikan Sasana Angkat Besi (SAB) Kota Metro yang merupakan satu-satunya sasana angkat besin yang ada di Kabupaten/Kota di Lampung di luar Padepokan Angkat Besi Imron Rosadi di Pringsewu.
SAB Kota Metro diresmikan, Minggu (29/4) kemarin oleh walikota Metro, H Lukman Hakim SH MM di Tejoagung, Metro Timur Kota Metro.
Peresmian SAB Kota Metro itu semakin istimewa kemarin, karena dihadiri salah satu anggota DPR-RI dari Komisi X yang membidangi olahraga, Itet Trijajati Sumarijanto MRA SS MBA beserta rombongannya.
Itet Trijajati saat ini menjadi pembina Itet Center merasa tergerak hatinya membantu Sasana Angkat Besi Kota Metro yang selama berdirinya telah menoreh prestasi gemilang dengan perolehan atletnya untuk jumlah cukup banyak, yaitu 37 medali emas dari berbagai even.
“Baik even Nasional maupun Internasional,” kata Yon, sang pelatih kepala SAB Kota Metro kepada koran LE kemarin.
Menurut Yon yang mendampingi Ketua Umum Pengcab Angkat Besi Metro, Ir H D Shantory, 37 medali emas itu mereka raiuh dalam kurun waktu 2003—2012.
Prestasi kami (atlet) kata Yon merupakan kekuatan murni yang fleksibel, konsentrasi, kemampuan, disiplin dan mental.
“Kami mohon dukungan semua pihak,” harap Yon yang sangat disetujui oleh Ir D Shantory dan Gatot (pengurus SAB Metro).
Sementara itu, Itet Trijajati Sumarijanto MRA SS MBA mengatakan  sebagai anggota DPR RI di komisi Xyang membidangi pemuda dan olah raga, tergerak hatinya untuk mendengarkan aspirasi masyarakat, guna mencarikan solisi dan langkah cepat dan konkrit.
“Bukan melihat dari cabang olahraganya, ini sudah bagus, karena kenyataanya sudah meraih tingkat Nasional dan Sea Games, “ katanya.
Dikatakan Itet, ia mengambil langkah dengan tidak melalui pemerintah dengan mencari jaringan di luar birokrasi dengan membangun Itet Centre dan turun kelapangan untuk melihat apa yang terjadi lalu mencari solusi dengan langkah konkrit.
Pada kesempatan yang sama, walikota Metro, H Lukman Hakim menjelaskan, kedatangan ibu Itet dari Komisi X yang membidangi olah raga sangat tepat.
“Ia akan merangkul para pengusaha, tapi sangat sulit karena di Metro tidak adanya perusahaan besar seperti daerah lain,” ujar Lukman.
Lukman pun mengakui, angkat besi belum ada pengcabnya, kepengurusan yang ada belum resmi, tapi akan tetap memperhatikan cabang olah raga itu.
Sedangkan Pelatih Angkat Besi Metro, Yon menjelaskan, sebelum didirikan gedung baru kondisi sangat menyedihkan.
SAB Metro berukuran 8 x 18 meter dengan luas lahan 20 x 25 meter, untuk bangunan gedung murni bantuan pihak luar yang mereka jalin hubungan selama ini.
“Kita tidak mungkin menggantungkan dana dari pemerintah, oleh karena kami mencari jalan ke luarnya, yang penting program kami berjalan lancar,” urai Yon.
Yon menambahkan, kondisinya seperti kandang ayam, tapi walau begitu tercetak beberapa lifter berprestasi tingkat nasonal maupun internasional, seperti halnya Eko Yuli Irawan meraih medali emas kejuaraan dunia goyang Korea dan Triatno, juara Sea Games 2007, 2009, dan 2012.
Ia juga menjelaskan, melihat kondisi itu, ia terus berjuang, para lifternya yang berprestasi mendapat perhatian sungguh-sungguh dari ibu Itet.
Melalui Itet Centre, kata Yon mereka mencari bantuan dari Kick Andy Hope yang memnggandeng Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian Sosial Jakarta (YKDK) dan Extra Joss.
“ Setelah mendapatkan bantuan itu,  sasana dibangun pada 31 januari 2012 dan selesai 15 Pebruari 2012, “ jelasnya. (naim emel prahana/RD-2)