Rabu, 10 Februari 2016

Mahasiswa Metro Mulai Bangkit



Metro, LE
Para mahasiswa Kota Metro yang tergabung pada Persatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) meminta walikota Metro untuk meninjau kembali berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan, termasuk visi misi sebagai kota pendidikan.
Hal itu disuarakan PMII, Senin (13/4) kemarin di halaman kantor walikota Metro. Mereka dengan berorasi menuntut pembenahan pengelolaan Taman Kota yang dinilai telah diskriminatif terhadap pedagang kecil.
Bahkan, para mahasiswa juga meneriakkan penolakan mereka atas kenaikan BBM oleh pemerintah dan para mahasiswa belum merasakan kalau Kota Metro menjadi “kota pendidikan”
Demo mahasiswa PMII Kota Metro kemarin sempat terjadi ketegangan akibat keinginan mereka untuk masuk ke halaman kantor walikota dicegat oleh barisan Sat Pol PP dengan mengunci pintu gerbang kantor walikota.
Sementara itu, walikota Metro tidak berada di tempat karena sedang meninjau UN SMA hari pertama bersama beberapa pejabat kepala dinas di daerah kota itu.
Akibat pintu masuk kantor walikota ditutup sat Pol PP, terjadi dorong mendorong—dan sempat adu mulut antara mahasiswa dan anggota Pol PP yang akhirnya membuka pintu gerbang tersebut.
Jumlah penndemo (pengunjuk-rasa) dengan aparat keamanan (polisi) memang tidak sebanding, sehingga para pendemo diblokir oleh ketatnya penjagaan pihak kepolisian dan Sat Pol PP.
Unjukrasa kemarin, berakhir dengan tertib dan para mahasiswa mengakui jika terjadi kesalahpahaman ketika hendak memasuki halaman kantor walikota, semata-mata karena pihak Pol PP dan polisi menutup pintu gerbang.
“Kami datang ke sini dengan niat baik, tidak ada maksud untuk berbuat anarkis,” kata salah satu oratornya. (RD-02)


Keterangan gambar
DEMOMahasiswa Kota Metro yang tergabung dalam PMII, Senin (13/4) kemarin melakukan aksi unjuk rasa memprotes beberapa kebijakan Walikota Metro maupun kebijakan pemerintah pusat seperti kenaikan harga BBM, diskriminasi terhadap pedagang kecil dan sebagainya. FOTO NAIM EP/LE

Tidak ada komentar: